Hari itu seakan menjadi hari terpenting Nayla.
Semua karena Mickey. Bagaimana tidak? Kalau tidak karena kucing itu lari ke
rumah tetangganya, Nayla tidak akan bertemu dengan bocah itu lagi. Dan anehnya,
Nayla justru salah tingkah setelah bertemu dengan bocah lelaki itu lagi.
"Kamu tetangga baru ya?"Tanya bocah
itu sambil menggendong Mickey
"Ehh, aamm, iyaaa, emm...."jawab Nayla
"Hey, ini kucingmu?"
"Yaa? Ohh, emm, iyaaa itu Mickey, maaf
yaa, aduhh, ehhmm dia nakal main krumah orang tanpa permisi" kata Nayla
agak grogi.
Wanita yang berdiri di depan pintu tadi
menjawab ucapan Nayla, "nggak papa, sekalian kenalan sama tetangga baru
kok, ya sudah saya masuk dulu yaa, yudha, tolong temani mbak ini ya, ibu mau
nerusin masak dulu" lalu wanita itu masuk ke dalam rumah. Suasana menjadi
tegang bagi Nayla.
Bocah lelaki tadi lalu memulai pembicaraan
lagi, "haha, lagian kamu ini, masak iya kucing bisa masuk sambil
permisi" lalu ia menyerahkan kucing Nayla kepada pemiliknya.
"Ehh, iyaa,hehehe, maaf maaf" Nayla
malu-malu menerima si Mickey.
"Oh iya, namamu siapa?"
"Hah? Ehhh, kenalin, ehh, aku Nayla"
"Ohh, oke, aku yudha, salam kenal, lain
kali kucingnya dibiarin aja main-main kesini ya?"
"Ohh, ehhmm, iyaaa, aku pamit yaa"
Nayla mengakhiri pembicaraan mereka. Ia lalu keluar dari rumah Yudha, kembali
ke rumah pink-nya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Wajah Nayla berubah, dari wajah penuh
kebingungan karena mencari Mickey, sekarang dia bermuka cerah dan ceria karena
telah bertemu lagi dengan bocah bersenyum manis itu. Nayla terlihat begitu
bahagia sekarang.
Malam itu Nayla agak susah tidur, Karena
kejadian sore tadi membuat fikirannya sangat terganggu. Yang ada dalam
pikirannya hanyalah bocah lelaki yang memberikan Mickey padanya sore tadi,
Yudha.
***
Keesokan harinya, Nayla sudah siap pukul 06.00
untuk berangkat ke sekolahnya. Anak kelas tiga memang sangat ketat
peraturannya, dia harus menjalani Pendalaman Materi setiap hari Senin – Jum’at
di sekolahnya dari jam 06.30 WIB. Tapi itu tak berat bagi Nayla, karena dia
sudah terbiasa bangun di pagi hari.
Hari itu menjadi hari yang lancar bagi Nayla, tak
ada hambatan bagi Nayla dalam menerima pelajaran hari itu. Setidaknya sampai
mata pelajaran ke-tujuh. Konsentrasi Nayla mulai berubah sejak dia melihat
teman yang duduk di depan Nayla mengeluarkan tempat pensil bergambar Mickey
Mouse. Dia langsung teringat kejadian sore kemarin yang berawal dari kucingnya,
Mickey. Sejak istirahat kedua, dia hanya senyum-senyum sendiri, pikiran Nayla
melayang jauh ke rumahnya. Dia masih saja kepikiran Yudha. Satu-satunya harapan
Nayla saat itu adalah, dia ingin segera pulang ke rumah.
Bel tanda pulang akhirnya berbunyi pukul 14.00
WIB. Saat yang paling ditunggu-tunggu Nayla sejak istirahat kedua. Dia cepat-cepat
keluar dari sekolahnya. Tak jauh dari gerbang sekolahnya, dia melihat Kak
Cyntia menunggu Nayla di atas motor matic-nya berwarna putih. Dengan langkah
seribu Nayla langsung menghampiri kakaknya dan segera minta pulang. Cyntia
bingung dengan sikap adiknya yang menjadi aneh karena merengek-rengek minta
pulang, karena biasanya adikanya justru minta diantar jalan-jalan dulu.
Cyntia akhirnya menuruti kata adiknya, mereka
langsung melaju pulang. Tapi sampai di rumah, raut wajah Nayla menjadi agak
kecewa. Pagar dan pintu rumah Yudha tertutup rapat, menunjukkan dia belum
pulang. Nayla lalu masuk ke rumah dengan wajah berubah lesu.
Di dalam rumah, Nayla hanya berdua dengan
Cyntia, karena ayah dan bunda mereka pergi bekerja ke luar kota. Karena mereka
sangat sibuk, sehari-hari Nayla lebih sering menghabiskan waktu dengan kakanya.
Cyntia pun juga menjaga amanah orang tuanya dengan sangat bertanggung jawab. Sembari
mengerjakan tugas skripsi-nya yang cukup menyibukkan, dia tetap memikirkan
adiknya agar tidak merasa kesepian karena orang tuanya harus pulang-balik
Jogja-Solo.
Setelah sampai di rumah, Nayla langsung
mengganti bajunya lalu duduk di ruang tengah sambil makan siang. Sedangkan Cyntia
duduk di ruang tengah sambil menata kertas-kertas untuk data skripsi-nya. Melihat Nayla sedang
santai sambil makan, Cyntia lalu memulai pembicaraan.
“Dek, kamu ini kan sudah kelas tiga, tapi kamu
belum ikut les apa-apa, nah kamu mau nggak nih ikut les di Alfa Smart,
tempatnya nggak jauh dari sini, jadi kamu bisa naik sepeda kesana. Karena kakak
nggak bisa terus mengajari kamu setiap hari, tapi kakak akan memantau kamu
terus kok, gimana?”
“ehh, yaaa aku mau sih, aku emang butuh teman
belajar, nggak bisa kalo harus belajar sendiri terus, eh, tapi kira-kira
gurunya killer nggak ya?”
“yaa dicoba dulu aja makanya, nanti sore kita
ke sana yaa”
“Hmmm, oke” Nayla mengakhiri pembicaraan sambil
menuju ke dapur untuk mencuci piring yang ia gunakan utuk makan sebelumnya.
***
Sore akhirnya datang, sekitar pukul 16.30,
Nayla dan Cyntia pergi ke tempat les Alfa Smart yang dibicarakan Cyntia. Tempatnya
memang tak jauh, sekitar 500 meter dari rumah Nayla. Bangunannya sederhana tapi
terlihat cukup menarik dan mencolok karena cat-nya yang berwarna hijau dan
kuning. Sampai di sana, mereka berdua masuk ke ruangan depan yang terdapat front office melalui pintu utama depan
tempat parkir kendaraan.
Sampai di dalam, Nayla agak penasaran. Dengan bocah
lelaki yang ia lihat sekilas sedang masuk ke sebuah ruangan dekat front office, Nayla sepertinya kenal
dengan anak itu. Ini membuat Nayla antusias untuk segera mendaftar ke tempat
les ini. Karena dari cirri-ciri fisiknya, pikiran Nayla tertuju pada satu orang,
bocah itu terlihat seperti Yudha.
(bersambung)