Masih dengan Nayla yang memejamkan
matanya. Seakan sedang bermeditasi dengan khusyuk. Di pesisir pantai itu dia
masih duduk di atas batu karang tak berbentuk. Kedua kakinya ditekuk hingga
lututnya hamper mendekati perutnya. Buku mungil berwarna pink bergambar Helly
Kitty dan penanya yang juga berwarna pink dengan bulu-bulu di salah satu
ujungnya diselipkan di antara kaki dan perutnya. Tapi ada hal yang berbeda kali
ini. Wajah mungilnya terlihat semakin manis. Ujung bibirnya melebar menunjukkan
senyum bahagia. Dia seolah sedang menemui bayangan indah dalam kepalanya.
***
Musim penghujan masih berlanjut. Di bulan
Februari 2009, orang-orang masih terlihat sibuk dengan payung atau jas hujan sebagai
alat pelindung diri dari tetesan air hujan. Tak berbeda dengan keadaan di
sebuah desa kecil yang tak jauh dari jalan utama menuju kota. Penduduk lalu
lalang melewati jalan becek dengan sangat hati-hati, karena banyak lubang yang
tergenang air di jalan desa ini.
Hamparan sawah yang menjadi cirri khas
desa ini menjadi terlihat begitu basah. Begitu juga dengan sawah yang hampir mengelilingi
enam rumah di pinggir salah satu jalan desa ini. Di antara ke enam rumah yang
sederhana itu, ada satu rumah yang terletak paling ujung sebelah kiri terlihat
begitu mencolok dari jauh. Cat temboknya berwarna pink, sedang atapnya berwarna
ungu. Pagarnya terbuat dari trails besi
berwarna oranye, dengan ukiran bunga di setiap sisinya.
Rumah yang terbilang eye-catching itu adalah tempat di mana
Nayla pernah berteduh dari hujan sampai bertemu dengan bocah lelaki bersenyum
manis. Ya, rumah milik keluarga Nayla kini telah selesai dibangun. Rumah berlantai
dua yang hanya memiliki lima tetangga di sebelah kanannya tampak begitu berbeda
dengan yang lain. Mungkin karena cat tembok dan atapnya masih baru, sehingga
berbeda dengan lima rumah lainnya yang cat temboknya sudah mulai terkelupas.
Pada minggu pagi yang basah karena
hujan, tampak tak jauh dari rumah ini, ada sebuah mobil sedan mercy berwarna silver melaju mendekat kea
rah rumah mungil tadi. Mereka adalah keluarga Nayla. Sudah lama sejak dia
terakhir mengantarkan makan siang untuk para kuli, Nayla jarang sekali mampir
ke proyek rumah keluarganya. Atau bisa dibilang hampir tidak pernah karena jarak
dari rumah dinas yang ia tinggali dulu cukup jauh bila dia harus naik sepeda. Disamping
itu dia mengikuti kegiatan sekolahnya, terutama kegiatan pramuka yaitu jamboree yang mengharuskan dia pergi ke
luar kota. Terlebih lagi dia sekarang sudah kelas tiga SMP, jadi waktunya lebih
banyak ia gunakan untuk les, belajar dan istirahat.
Tapi sekarang adalah waktu untuk Nayla
pindah permanen ke rumah barunya. Nayla sebenarnya masih bingung, antara harus
sedih karena meninggalkan teman-temannya di tempat dia tiunggal dulu, atau dia
harus senang karena memiliki rumah baru. Namun satu hal yang ada di benak
Nayla, setidaknya bila dia pindah, dia mungkin bias bertemu dengan bocah lelaki
dengan senyum menawan itu.
Nayla sampai di rumah mungilnya. Dia keluar
dari mobil, juga kakak perempuannya dan kedua orangtuanya. Tapi Nayla tidak
turun sendiri, dia menggendong seekor kucing Persia berbulu putih kapas. Dia memanggilnya
Mickey.
“Mickey, ini rumah baru kita, mulai
malam nanti kita akan tidur di sini, bersama ayah, bunda, dan Kak Cyntia. Di sini
tempatnya enak,meskipun di desa tapi setidaknya tempatnya nyaman apalagi kalau
pagi, pasti sejuk deh udaranya. Kamu harus betah ya di sini” kata Nayla sambil
berdiri di bawah kanopi dekat pagar untuk berteduh sembari menunggu pintu pagar
yang sedang dibuka bunda-nya.
Setelah pintu terbuka, semua anggota
keluarga sederhana ini masuk ke rumah. Tak lama kemudian ada satu mobil pick-up berisi penuh perabotan rumah
tangga yang berhenti di depan rumah Nayla. Empat pria yang tadinya berada dalam
mobil pick-up tadi lalu turuhn dan
mulai mengangkati perabotan ke dalam rumah Nayla. Hari itu, keluarga ini sibuk
menata rumah.
Tidak butuh waktu lama untuk menata tata
letak rumah itu, karena semuanya telah terkonsep dengan rapi oleh ayah Nayla. Hingga
sore itu, semua telah selesai tertata. Rapi pada tempatnya masing-masing. Nayla
bersama Mickey masuk ke kamarnya. Dia memperhatikan keadaan sekitar kamarnya. Penuh
dengan nuansa berwarna pink. Semua terlihat begitu elegan, tapi sederhana,
karena tidak ada perabotan yang terlihat mecolok, hanya satu tempat tidur, dua
lemari berukuran besar dan kecil dan satu meja belajar.
Semua orang di rumah pink Nayla terlihat
lelah karena seharian telah bekerja keras untuk mempercantik keadaan rumah. Namun
ada yang aneh dengan Nayla, dia terlihat sedang kebingungan mencari sesuatu. Jalan
kesana-kemari sambil memperhatikan keadaan sekitar, mengobservasi keadaan atau
entah apalah. Yang jelas, dia terlihat kehilangan sesuatu. Yang ternyata dia
sedang mencari kucing kesayangannya, Mickey.
“Mickey, mickey dimana kamu nak” teriak
Nayla.
“Masih belum ketemu Nay?” kata kakak
perempuannya, kak Cyntia.
“belum, tadi dia diam di sini, terus aku
tinggal nata kamar, pas aku tengok lagi dia sudah nggak ada, aaa di mana
Mickey?” rengek Nayla sambil menunjuk ke arah depan televise di ruang tengah.
“Kamu udahcoba cari di seluruh isi
rumah?”
“sudah kakaaaak, dari tadi aku sudah muter-muter
sana kemari, bolak balik ya nyari si Mickey”
“coba kamu cari di luar, dia itu kan
masih baru di sini, jadi nggak mungkin sampai lari jauh-jauh dari rumah. Kan dia
masih asing dengan tempat ini Nay. Sana cepat cari di luar mumpung belum
kelamaan.”
Nayla langsung menuruti kata kakaknya. Dia
langsung lari keluar menuju ke halaman rumahnya. Dia menoleh ke kanan dan ke
kiri tapi masih tak ada tanda-tanda Mickey ada di sini. Dia lalu berjalan keluar
melewati pagar langsung belok kanan. Dia melihat sekilas ekor Mickey yang putih
masuk ke dalam rumah tetangga tepat sebelah kanan dari rumah Nayla. Tapi dia
justru bingung, antara ingin masuk ke rumah untuk menjemput Mickey, atau ttap
diam karena takut dengan pemilik rumah.
Akhirnya Nayla memberanikan diri masuk ke
halaman rumah tetangganya. Dia dengan pelan mengetuk pintu rumah hingga ada
seorang wanita dengan mengenakan kaos berwarnaputih dan celana panjang semacam training berwarna hitam keluar dari
dalam rumah. Dia bertanya dengan lembut, “Ya, ada apa?”
“ehm, ini tadi kucing saya masuk ke
rumah ini, apa dia ada di dalam ya?” Tanya Nayla pada wanita itu dengan sopan.
“ohhh, ituu er ta…” wanita itu berusaha
menjawab, tapi sudah terpotong suara anak laki-laki dari dalam rumah.
“Buk, ini kucing siapa ya? Kok ada di
sini?” kata anak itu sambil menggendong kucing Nayla sembari berjalan keluar
menuju wanita tadi.
“Mickey !!!!” teriak Nayla keras. “Kamu
kok…” dia menghentikan suaranya. Dia terpaku pada anak laki-laki yang menggendong
Mickey. Bagaimana tidak? Anak lelaki ittu adalah bocah laki-laki yang ditemui
Nayla pada waktu hujan di tahun sebelumnya. Nayla shock dan bingung kata-kata
apa yang akan dia ucapkan setelah melihat anak itu.
“Hey …” sapa bocah itu.
“Ehh, umm, hey …” jawab Nayla tersipu ..
(bersambung...)
No comments:
Post a Comment